Home / Berita Nasional / A Wrinkle in Time menurut kritikus

A Wrinkle in Time menurut kritikus

A Wrinkle in Time menurut kritikus

A Wrinkle in Time

Minggu ini, bioskop di Indonesia di ramaikan oleh film berjenis fantasi yang dapat di nikmati semua anggota keluarga. Film itu yaitu A Wrinkle in Time, bikinan Disney, yang telah punya kebiasaan dengan genre fantasi.

A Wrinkle in Time diangkat dari novel berjudul sama karangan Madeleine L’Engle, pertama terbit pada 1962. Filmnya bercerita rasa sedih Meg (Storm Reid) sesudah sang bapak (Chris Pine) menghilang.

Tetapi si bocah kembali mengharapkan sesudah temukan perjalanan lintas-semesta. Dengan saudara, rekan, serta tiga peri ajaib, Meg berupaya mencari ayahnya.

Premis fiksi ilmiah dipadukan dengan bagian fantasi sering jadi bumerang, seperti John Carter, film semacam yang berbujet begitu besar (US $250 juta atau Rp3, 4 triliun) tapi berbuntut pendapatan domestik yang umum saja (US $284, 1 juta).

Bagaimana kurang lebih nasib A Wrinkle in Time, intinya bila dilihat dari penilaian beberapa kritikus?

Di website pengepul penjelasan Rotten Tomatoes, film yang dibesut sutradara Ava DuVernay ini memperoleh ‘tomat busuk’. Rating-nya cuma 40 %. Dari 188 kritikus, cuma 76 yang berikan penjelasan negatif. Nilai rata-ratanya juga hanya 5, 1 dari 10 point.

Rupanya pemirsa jadi lebih kejam dari pada kritikus. Cuma 34 % dari sekitaran 5. 000 pirsawan yang suka pada film ini, dengan nilai rata-rata 2, 4 dari 5 point.

“A Wrinkle in Time bagus dengan visual, melegakan hati, serta kadang-kadang cukup menghentak, sayangnya film ini sangat ambisius hingga ada di pinggir kegagalan, serta sering merasa kurang di bagian klasiknya, ” catat Rotten dalam konsensus kritiknya.

Bila diliat dari konteksnya jadi film untuk anak-anak, A Wrinkle in Time sesungguhnya dilihat memuaskan.

“Film ini cukup bagus, tapi ya jadi film anak-anak. Tontonlah dengan seseorang anak, seperti referensi DuVernay, dengan semua ‘keajaiban’ mereka. Diluar itu, mungkin saja janganlah berfikir untuk melihat, ” catat Christopher Orr dari The Atlantic.

Itu karena penggarapan sang sutradara. DuVernay yaitu kreator serial Queen Sugar, yang bertopik keluarga.

“DuVernay menyatakan emosi serta kesederhanaan naratif, yang sangat mungkin karakter alami bukunya–berisi mengenai ujian pertemanan, keluarga, serta rasa pengampunan–dapat beririsan dengan kemampuan mistis, ” catat Tim Grierson dari Screen Daily.

Kritikus beda memiliki pendapat demikian sebaliknya.

Richard Lawson dari Vanity Fair menyalahkan DuVernay dari bagian tehnik. ” Ia tidak dapat mengambil keputusan, mesti pilih visual yang berkelanjutan atau cerita yang memiliki irama. Peletakan cameranya berantakan, dengan close-up nan bikin pusing, lalu camera mundur jauh untuk memerlihatkan kemegahan lanskap. Sayangnya, itu semuanya cuma kecantikan CGI yang merasa hambar, ” catat Lawson.

” Problem film ini yaitu Anda tidak juga akan terasa sentuhan personal dari DuVernay jadi hal yang masuk akal, ” catat Vince Mancini dari Uproxx. Ia memperbandingkan A Wrinkle in Time dengan karya Disney beda yang dilihat tidak berhasil, yakni Tomorrowland (2015). ” Keduanya berupaya jadi karya yang universal, tapi mereka jadi terputus sekalipun dari bagian manusia. “

Kesimpulannya, film ini berupaya berlainan, tapi jadi terperosok jadi bebrapa umum saja. Seperti rangkuman penjelasan Richard Roeper dari Chicago Sun-Times.

“A Wrinkle in Time yaitu film yang tegas, selama film mereka berani ambil peluang untuk jadi khusus. Tapi dari semuanya adegan yang menghadirkan beberapa pemeran terbang, film ini tidak sempat betul-betul ‘lepas landas’, ” catat Roeper.

Box office juga mengecewakan

Mungkin saja bebrapa penjelasan jelek itu buat pemirsa ogah melihat A Wrinkle in Time, paling tidak orang-orang Amerika.

Bila pemirsa Indonesia baru bisa jatah penayangan A Wrinkle in Time pada minggu ini, pencinta film di negeri Paman Sam telah dapat menontonnya mulai sejak minggu kemarin. Nah, hasil box office disana dapat disebut agak tidak sesuai harapan.

Pada periode akhir minggu lantas, A Wrinkle in Time kalah dari Black Panther. Walau sebenarnya film superhero itu telah masuk minggu ke-4 penayangan. Ketidaksamaannya penting, menjangkau 19 %. Bila Black Panther sukses memperoleh US $41, 1 juta (Rp565, 7 miliar), Wrinkle in Time cuma bisa sekitaran US $33, 3 juta.

Angka ini masih tetap jauh dari biaya produksi yang diprediksikan menjangkau US $103 juta.

BACA JUGA YANG INI :

Samsung Galaxy S9 dan S8 Spesifikasi nya hanya berbeda tipis
Trailer Film Peter Rabbit Segera Tayang Di Bioskop
Kisah Guru Menyembunyikan 19 Siswa di Lemari Selama Pembantai
Jadwal Bola Champions Yang Akan Di Selenggarakan Minggu Ini
Di Musim Premier League Chelsea Menelan Kekalahan Lagi

About admin

Check Also

Efek Vitamin Untuk Ternak Ayam

Efek Vitamin Untuk Ternak Ayam

Efek Vitamin Untuk Ternak Ayam – Vitamin adalah satu zat senyawa kompleks yang begitu dibutuhkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *